SDN Kertosari: Penelusuran sejaran sekolah di Wilayah Kutorejo

 
SDN Kertosari Kutorejo Mojokerto

SD Negeri Kertosari merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar yang memiliki perjalanan sejarah panjang seiring dengan perkembangan Desa Kertosari, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan hasil penelusuran terhadap buku induk sekolah yang masih tersimpan hingga saat ini, diketahui bahwa kegiatan pendidikan di SD Kertosari telah berlangsung sejak tahun 1949, hanya beberapa tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaan.

Catatan pada buku induk menunjukkan bahwa pada tahun Pelajaran yang tertulis 1 Agustus 1949 terdapat 3 orang siswa yang tercatat sebagai murid Kelas I. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1950, jumlah peserta didik baru meningkat menjadi 9 orang. Data tersebut menjadi bukti autentik bahwa penyelenggaraan pendidikan dasar di Kertosari telah dimulai sejak awal masa kemerdekaan dan menjadi tonggak lahirnya SD Kertosari.

Berdasarkan keterangan para sesepuh Desa Kertosari, pada masa-masa awal belum tersedia gedung sekolah sebagaimana sekarang. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara sederhana dengan memanfaatkan rumah Kepala Desa dan terkadang rumah Pak Carik (Sekretaris Desa) sebagai tempat belajar. Semangat masyarakat untuk mencerdaskan anak-anak tetap terjaga meskipun dalam keterbatasan sarana dan prasarana.

Seiring bertambahnya jumlah peserta didik, masyarakat bersama pemerintah desa kemudian membangun bangunan sekolah sederhana yang terbuat dari gedek (anyaman bambu) dengan konstruksi semi permanen. Bangunan tersebut pernah mengalami kerusakan hingga ambruk akibat terpaan angin kencang. Peristiwa tersebut justru semakin menguatkan tekad masyarakat untuk memiliki gedung sekolah yang lebih kokoh. Selanjutnya dibangunlah gedung sekolah permanen yang menjadi cikal bakal berkembangnya SD Kertosari hingga sekarang.

Penelusuran terhadap buku induk lainnya juga menemukan data peserta didik pada tahun 1963, yaitu sebanyak 8 siswa yang masuk Kelas I. Pada tahun 1964, jumlah murid baru meningkat menjadi 14 siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan formal terus tumbuh dari tahun ke tahun.

SDN Kertosari Persiapan Agustusan 2026

Dari data buku induk juga bahwa beberapa siswa yang tercatat belajar di sd kertosari adalah beberapa tokoh Masyarakat dari beberapa desa sekitar kertosari. Di antaranya ada anak kepala desa simbaringin, dan juga beberapa anak perangkat desa tersebut. Banyak juga tercatat murid yang berasal dari desa payungrejo. Dari catatan tersebut dapat dipahami bahwa SD Kertosari menjadi tempat yang diminati beberapa warga di luar desa kertosari.

Dalam perjalanan berikutnya, penyelenggaraan pendidikan dasar di Desa Kertosari berkembang menjadi dua satuan pendidikan, yaitu SDN Kertosari 1 dan SDN Kertosari 2. Kedua sekolah tersebut selama bertahun-tahun berperan penting dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat desa dan sekitarnya.

Sebagai bagian dari kebijakan penataan kelembagaan pendidikan, pada tahun 2013 dilakukan penggabungan (merger) antara SDN Kertosari 1 dan SDN Kertosari 2 menjadi satu sekolah dengan nama SD Negeri Kertosari. Penggabungan ini menjadi momentum untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan, meningkatkan efisiensi pengelolaan sekolah, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pendidikan.

Hingga tahun 2026, SD Negeri Kertosari terus berkembang menjadi sekolah yang melayani pendidikan dasar bagi masyarakat Kecamatan Kutorejo. Berdasarkan akumulasi data dalam buku induk sekolah sejak awal berdiri, tercatat sebanyak 2.478 peserta didik pernah mengenyam pendidikan di SD Negeri Kertosari. Ribuan alumni tersebut telah melanjutkan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan sebagai bentuk nyata kontribusi sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih dari tujuh dekade perjalanan pendidikan tersebut menjadi bukti bahwa SD Negeri Kertosari bukan sekadar tempat belajar, melainkan bagian dari sejarah, budaya, dan perjuangan masyarakat Desa Kertosari dalam membangun generasi yang berilmu, berkarakter, serta siap menghadapi perkembangan zaman. Semangat para pendiri, guru, pemerintah desa, dan masyarakat yang diwariskan sejak tahun 1949 terus menjadi inspirasi bagi seluruh warga sekolah untuk melanjutkan pengabdian dalam mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan berwawasan lingkungan menuju masa depan yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mas Gagah Pergi