Postingan

Benahi Diri dengan Shalat Tepat Waktu

Benahi Diri dengan Shalat Tepat Waktu 15 Mei 2012 | Rubrik: motivasi - Dibaca: 2163 kali (Mix dari berbagai sumber) Seorang Bapak berbincang dengan penjaga keamanan. Penanya : “Kerja disini digaji pak?” Satpam : “Iya dong pak.” Penanya : “Alhamdulillah ya, masih bisa kerja dan digaji. Sementara ada orang lain yang nggak punya pekerjaan apalagi digaji” Satpam : “Iya sih, pak. Tapi, Saya bosan Pak, sudah 7 tahun begini terus … jadi satpam aja. Gaji pun naik ala kadarnya.” Penanya : “Ooo begitu ya Pak. Ohya, sudah sholat Pak?” Satpam : “Belum. Nanti aja, tanggung. Jam 5-an aja deh.” Penanya : “Wah, sekarang jam 3-an, waktunya Ashar. Kalau Bapak sholat jam 5 berarti menunda sholat 2 jam. Kalau satu hari ada 5 waktu sholat, rata-rata Bapak menunda 5 x 2 jam = 10 jam. Artinya Satu minggu Bapak menunda 7 x 10 jam = 70 jam. Satu bulan 4 x 70 jam = 280 jam. Satu tahun Bapak menunda 12 x 280 jam = 3360 jam. Dan akhirnya selama 7 tahun Bapak telah menunda sholat selama 7...

Rendahnya IPM Indonesia sebagai Kritik

Banyak sematan diarahkan kepada Indonesia, di antaranya negara gagal, negara salah urus, negara terkorup di Asean. Itu semua adalah bentuk sebuah kritik yang disajikan dengan argumen masing-masing. Catatan UNDP terbaru April 2012 menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menempati   urutan 117 dari 177 negara tersebut merupakan realitas capaian penilaian atas kualitas masyarakat yang harus diterima dengan lapang dada. Apapun hasilnya, hendaknya bisa dijadikan bahan evaluasi secara positif. Beranjak dari Sejarah Sebagaimana diketahui setiap Negara memiliki sejarah peradaban masing-masing. Dahulu, negara kita pernah disegani bangsa lain sebagai bangsa yang besar dan memiliki wilayah yang luas. Kemudian, terpuruk oleh kolonialisme Eropah selama kurang lebih 350 tahun. Dalam kondisi semacam ini, kualitas kehidupan masyarakat terjajah dalam berbagai sisi kehidupan mengalami krisis dan bahkan lemah daya saing dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Memang mayor...
Rendahnya IPM Indonesia Sebagai Kritik Banyak sematan diarahkan kepada Indonesia, seperti negara autopilot, negara salah urus, negara terkorup di Asean. Itu semua adalah bentuk sebuah kritik yang disajikan dengan argumen masing-masing. Catatan UNDP terbaru April 2012 menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menempati   urutan 117 dari 177 negara tersebut merupakan realitas capaian penilaian atas kualitas masyarakat yang harus diterima dengan lapang dada. Apapun hasilnya, hendaknya bisa dijadikan bahan evaluasi secara positif. Sebagaimana diketahui setiap Negara memiliki sejarah peradaban masing-masing. Dahulu, negara kita pernah disegani bangsa lain sebagai bangsa yang besar dan memiliki wilayah yang luas. Kemudian, terpuruk oleh kolonialisme Eropah selama kurang lebih 350 tahun. Dalam kondisi semacam ini, kualitas kehidupan masyarakat terjajah dalam berbagai sisi kehidupan mengalami krisis dan bahkan lemah daya saing dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain....

cerpen

Sandal Bolong | Penulis: Shine Fikri “Kembalikan!” Aku melonjak-lonjak menggapai sandalku. “Tidak akan!” Edi semakin mengacungkan sandal itu. Ia ancang-ancang melemparkan sandal pada temanku, Dani. Dani hanya bisa terbahak melihat aku yang bersusah payah menggapai tangan Edi. Untuk apa? Untuk apa kau bilang? Tentu saja untuk merebut sandal milikku! Tuiiiing… Sandal itu melayang tinggi… Tinggi sekali… dengan slow motion yang sempurna! Bumipun  bergerak melambat tak seperti biasanya. Bluk! Sandal terhenti tepat di perut Dani. Edi dan Dani terbahak bukan main. Menertawakan hasil candaan konyol mereka. “Buang ke tong sampah, Naaan...!” Instruksi Edi dengan teriakannya. Benar-benar gila! Aku tak habis pikir, setega itu mereka padaku. Dani berlari dengan semangat empat lima. Membawa sandalku dan mencemplungkannya pada tong sampah satu-satunya di Sekolah Dasar-ku. Grrr... Darahku memompa naik! Mengeluarkan amarah dan merah di wajah. Aku pun berjalan tergesa yang setiap...

cerpen Kursi

Kursi Ayah Penulis: Zi Muzi “Yah, Aby berangkat ya...” Pria di depanku tidak menengok sedikit pun. Hanya pupil matanya yang bergerak-gerak mengikuti gerakan tubuhku. Aku mengambil tangannya. Menjabatnya dan kemudian menciumnya. Kemudian aku meletakannya kembali ke atas lengan kursi tempatnya duduk menghabiskan pagi di beranda rumah kami yang sederhana. Ia masih tak bereaksi. “Aby, kamu pergi naik apa?” Ibu keluar dari dalam rumah dengan semangkuk bubur tepung beras hasil racikannya. Tidak ada bubur oat untuk ayah. Padahal dokter menyarankan agar ayah banyak-banyak makan makanan yang rendah kalori untuk kesehatan jantungnya. Tak apalah, asal ayah makan. “Nebeng Ihsan, Bu,” jawabku berbohong. Ihsan hari ini tidak masuk sekolah karena dia dan keluarganya pergi berlibur ke luar kota. Asik sekali. “Kamu nanti langsung pulang ya, By. Jaga ayah. Ibu mau ke pasar. Cari tahu harga kursi roda. Kursi roda ayah sudah minta diganti,” Aku menoleh ke arah ayah dan kursi rodanya. Kini m...